Langsung ke konten utama

Berbicara "Cinta" #3

Berbicara tentang cinta, maka tidak bisa dipisahkan kepada dua sisi, yaitu suka dan duka. Ah, segala sesuatu memang selalu mempunyai dua sisi, baik dan buruk. Sesuatu yang baik memang lebih mudah untuk diadaptasi, sedangkan sesuatu yang buruk sebaliknya.

Beberapa malam selanjutnya, aku berhasil menemukanmu (lagi). Tidak ada lagi tanah basah yang mengingatkanku pada malam itu. Hujan tidak turun hari ini, senja pun dengan bangga menunjukkan kemilaunya: kedamaian sekaligus kehampaan.

Taman --tempat biasa aku menunggumu-- itu kosong. Tidak. Aku tidak harus menunggumu disana, aku lebih dulu telah menemukanmu, di tempat yang lain. Kita tidak sengaja bertemu lewat sudut yang berbeda. Siluet tubuhmu samar-samar terlihat di kejauhan sana. Jantungku berdegup kencang.

Dan akhirnya kita berpapasan.

"Kiiara, mau kemana?"

Aku diam, tidak tau harus menjawab dengan kata apa. Ingin sekali aku berkata 'aku hanya ingin melihatmu', tapi itu pun tidak mungkin.

"Askaa, Hei.. Sini dulu bentar." Suara itu memanggilmu.

Belum sempat aku menjawab, belum sempat berkata lebih banyak. Dan kamu telah berbalik, menuju sumber suara yang memanggilmu. Berlari-lari kecil sambil melambaikan tangan padaku.

Suara itu suara wanita. Dan Kamu terlihat bersemangat sekali menghampirinya. Ah, atau mungkin..

Aku terus berjalan, dan tentu saja mengarah ke arah kalian berdua. Aku kira apa yang ada dipiranku benar.

Kamu terlihat senang sekali bersamanya. Dan aku, masih saja memperhatikan.

Tanganmu mengacak-ngacak rambutnya dengan mesra. Tertawa-tawa.

"Tuhaan, siapa wanita itu?" keluhku.

Aku tidak mampu melihat lebih lama lagi, tetapi kakiku malah seperti beku. Ingin sekali aku berteriak, tapi itu tak mungkin. Dan aku masih tetap membeku, dengan mata yang semakin berkaca-kaca. Tidak ada yang lebih sakit selain melihat orang yang kita cintai bahagia dengan wanita lain. Senyum itu, tawa itu, semuanya bukan untukku, bukan pula milikku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Naskah Monolog

Lelayu Oleh: Ranti Alfiani Pertunjukan drama ini bertempat di sebuah ruangan sederhana, mirip kamar tidur namun tanpa tempat tidur dan lemari, maupun furniture yang lainnya. Sebuah ruang yang hanya berisi tikar dan sebuah kursi, meja dan beberapa aksesoris kamar, serta sebuah lonceng angin yang tergantung di sudut ruangan. Sebuah ruang yang tidak terlalu terang juga tidak terlalu gelap. SESEORANG DUDUK DENGAN RAUT WAJAH YANG LUSUH, SENYUMAN YANG HAMBAR, SERTA KESEDIHAN YANG TERGANTUNG DI KEDUA KELOPAK MATANYA. Peristiwa kematian, berkabung, lelayu, atau apalah orang-orang menyebutnya selalu menimbulkan kesedihan yang mendalam. Saya tahu, tidak ada pertemuan yang abadi, kenanganlah yang kemudian menjelma sebagai sesuatu yang tampaknya abadi, namun tetap saja kenangan manusia terbatas pada kemampuan otak menyimpan peristiwa. Itulah mengapa perpisahan selalu menjadi sebuah kejadian yang selalu menyakitkan. Peristiwa yang berlalu, terekam, kemudian menjelma menjadi kenangan s...

Rasa Ini Lagi

 Ia masih saja menatap beku di daun jendela itu. Di luar, senja masih sedikit berkelebat pada ujung cakrawala. Kian menipis dan sedetik saja, mungkin sinar keemasan itu pun akan segera lenyap. Dan Ia, masih saja terpaku dengan keadaan. "Masih dengan kerinduan yang sama, andai saja aku bisa bercerita, dan kamu mendengarkan." katanya. Beberapa malam terakhir Ia mulai memimpikan Dia lagi. Sudah nyaris gila juga Ia mencoba untuk menangkis bayangan Dia dari hidupnya, dan sekarang Dia malah semakin lancang hadir dalam sadar dan setengah sadarnya. Bagaimana lagi? Rasa itu sudah semakin menjalar. Dan Ia sudah pasrah. Puncaknya adalah sore ini, ketika Ia melihat dia dengan kondisi yang tidak biasanya. Matanya sayu, dan wajahnya agak memerah. Namun Ia tak bisa mendekatinya atau sekedar menanyakan keadaannya. Ia merasa tidak punya hak, dan tidak punya kepentingan apa pun bagi Dia untuk menanyakan hal itu. Malam mulai melingkupi belahan bumi itu. Di daun jendela kamar...

Berbicara "Cinta" #2

Kamu tahu? Pertemuan singkat malam itu menjadi goresan paling indah yang pernah terukir dalam kisah ini. Aku hanya berharap akan ada sesuatu yang indah bersamamu untuk selanjutnya, selanjutnya lagi, dan selanjutnya setelah seterusnya. Betapa pun itu, aku rasa tidak terlalu tinggi untuk hanya berharap mengenalmu. Semua orang berhak untuk diperlakukan sama, tak terkecuali aku untuk sama seperti semua orang yang mengenalmu. Malam selanjutnya masih sama. Masih dengan tanah basah sisa hujan yang begitu deras sore harinya. Kamu tahu? Harum tanah basah ini menjadi moment yang serasa menempel dalam ingatanku, yang tentu saja mengingatkan semua tentang: kamu. Lagi-lagi aku menunggu kamu di kursi taman ini. Sengaja menunggu, dan sudah menjadi tradisi. Hanya seolah-olah seperti tidak untukmu. Untuk menjaga kenyamananmu, untuk menjaga segala kebaikanmu. Jujur saja, kecenderunganku adalah merasa tidak layak untukmu. Meski aku mencintaimu. Tetapi cinta saja tidak cukup bukan? Dan aku mencoba men...